;Pendidikan pada saat ini memiliki peran penting dalam sumber daya manusia yang berkualitas, dalam UU No. 20/2003 tentang system pendidikan  Nasional, tercantum pengertian pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potesi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Dunia telah memasuki era globalisasi yang dihadapi dengan berbagai persaingan bagi siapa saja. Agar mampu dalam bersaing dalam persaingan global, maka pendidikan di Maluku Utara harus terus dikembangkan dan ditingkatkan mutu sumber daya manusia yang merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, efektif dan efesien dalam proses pembangunan. Salah satu upaya dalam peningkatan mutu sumber daya manusia Maluku Utara dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu pendidikan, karena pendidikan adalah salah satu indicator penentu kualitas sumber daya manusia yang ada di di sebuah Negara, dengan melihat salah satu tujuan pendidikan yang paling utama yaitu mencerdaskan anak bangsa.

Di antara 33 propinsi yang ada di Indonesia, pendidikan Maluku Utara menempati urutan ke 27 (rangking 27). Data tersebut menunjukan buruknya tingkat pendidikan di Maluku Utara, dengan melihat kwalitas pendidikan di Maluku Utara kemudian dibandingkan dengan propinsi lainnya, sangatlah berbeda jauh. Ini merupakan suatu masalah besar yang harus disadari oleh kita sebagai generasi untuk mensukseskan pendidikan di Maluku Utara. Hal tersebut menyebabkan pemerintah bersama dengan berbagai kalangan telah dan terus berupaya mewujudkan berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih bermutu yaitu melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan system evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pemberian pendidikan dan pelatihan bagi guru. Tetapi upaya pemerintah tersebut belum memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan mutu pendidikan Maluku Utara. Hal ini karena disebabkan oleh permasalahan-permasalan  khusus dalam pendidikan di Maluku Utara yaitu diantaranya rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, minimnya kemauan belajar, dan mahalnya biaya pendidikan. Hal semacam ini dapat dirasak oleh seluruh sekolah di Maluku Utara, terutama lagi di daerah-daerah terpencil.

1. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Maluku Utara sangat memprihatinkan, kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya, bakan hanya itu, sebagian guru di Indonesia khusunya di Maluku Utara bahkan dinyatakan tidak layak untuk mengajar. Sebagai contoh banyak guru yang lulusan S1tidak bisa memberikan materi didepan kelas dan bahkan ada yang tidak bisa berdiri didepan kelas, hal seperti ini yang akan menyebabkan banyak PNS yang nganggur dan tidak diperlukan tenaga kerjanya karena tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukanlah sebuah fiktif-fiktif belakang, tetapi sebuah realita yang ada di Maluku Utara. Untuk contoh yang lain yaitu kebanyakan guru di Maluku Utara tidak bertanggung jawab dalam pekerjaanya, mereka hanya memikirkan upah/gaji, tidak memikirkan apakah siswa akan mengerti dengan pelajaran yang diberikan atau tidak. Memberikan les kepada siswa yang akan meghadapi ujian misalnya, itupun harus menuntut agar dibayar, hal ini akan menjadi suatu masalah bagi siswa yang kurang mampu dan akan menyebabkan banyak siswa yang tidak bisa mengikuti les, disebabkan karena tidak bisa membayar uang.

2. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran penting didalam kualitas pendidikan Indonesia. Banyak guru yang melakukan pekerjaan sampingan, seperti berjualan di luar sekolah, memberikan privat di sore hari kepada siswa, menjadi tukang ojek diluar pekerjaan di sekolah,  dengan tujuan untuk mencari nafkah sebagai tambahan dengan hasil pekerjaan sebagai guru di sekolah yang tidak mencukupi. Hal ini disebabkan karena kurangnya gaji guru yang diberikan oleh pemerintah. Misalnya, seorang guru menerima gaji bulanan sebesar 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan Rp 1.5 juta. Guru bantu Rp 460 ribu, dan guru honor di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan kejadian seperti inilah sehingga guru harus mengerjakan pekerjaan sampingan. Ini menunjukan bahwa kurangnya kesejahteraan guru di Indonesia terutama di Maluku Utara.

3. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru), pencapaian prestasi siswa pun tidak memuaskan. Misalnya, pencapaian prestasi Biologi dan Matematika, siswa Maluku Utara di tingkat nasional sangat rendah. Anak-anak Maluku Utara ternyata hanya mampu menguasai 20-30% dari materi bacaan dan ternyata sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda. Bukan hanya itu, jika anak-anak Maluku Utara di bandingkan dengan anak-anak Jawa misalnya, anak-anak Maluku Utara sangat tertinggal jauh apalagi di daerah-daerah pendesaan yang sangat terbelakang, yang masih sangat tertinggal jauh. Ini membuat rendahnya prestasi yang didapat siswa, hal ini mengakibatakan orang tua harus menyekolahkan anaknya keluar kota.

4. Minimnya Kemauan Belajar

Minimnya kemauan untuk belajar juga sangat berpengaruh terhadap pencapaian pendidikan, hampir semua pelajar Indonesia terutama di Maluku Utara malas untuk belajar dan hanya mengharapkan bantuan dari orang lain. Keinginan untuk belajar hanya sedikit dan bahkan tidak ada sama sekali, banyak contoh yang kita dapatkan diluar sana misalnya anak-anak sekolah lebih suka bermain PS dan bolos sekolah dari pada mengikuti pelajaran di kelas, dan lebih banyak mahasiswa yang tidak masuk kampus di bandingkan dengan mahasiswa yang datang ke kampus, dan juga mereka hanya takut absen kosong dari pada otak kosong. Hal ini disebabkan karena tidak adanya motivasi dalam diri, kemauan untuk belajar tidak ada sama sekali.

5. Mahalnya Pendidikan

Pendidikan yang bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari taman kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin di Maluku Utara tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Sebagai contohnya kita bisa lihat begitu banyaknya anak-anak yang nganggur diluar sana.  Pendidikan yang berkualitas mungkin murah  atau tepatnya tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayar? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyrakat bahwa untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu. Akan tetapi, kenyataannya pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawabnya. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi pemerintah untuk ‘cuci tangan’.

Dengan melihat banyaknya masalah-masalah dalam pendidikan yang terdapat di Maluku Utara, maka pemerintah harus lebih teliti dalam menangani masalah dalam pendidikan, perlunya memberikan pelayanan yang baik dalam kontex pendidikan kepada masyarakat, agar masyarakat yang miskin pun dapat menyekolahkan anaknya, disamping itu juga guru harus memberikan motivasi yang lebih kepada anak tentang pentingnya belajar dan sebagainya. Tetapi itu juga tidak akan berhasil jika tidak adanya kesadaran dari anak sendiri. Perlunya kesadaran anak tentang pentingnya pendidikan sehingga mereka juga mempunyai motivasi belajar yang tinggi, hal ini sangat membantu dalam keseksusesan pendidikan. Jadi, pendidikan di Maluku Utara akan berhasil dan menghasilkan anak-anak yang cerdas jika pemerintah, masyarakat maupun pelajar bisa bekerja sama dalam mensukseskan pendidikan Maluku Utara.